Tugas Bahasa Indonesia Softskill (Pemanfaatan Bahasa Indonesia pada Tataran Semi Ilmiah)

TUGAS BAHASA INDONESIA (SOFTSKILL)

Nama : Yulinda Santiani
Kelas : 2EB13
NPM : 21208453

• Wacana semi ilmiah dalam bentuk reportase

400 Hektare Hutan Merapi Tidak Dapat Direboisasi

Sekitar 400 hektare hutan di kawasan Taman Nasional Merapi Merbabu atau TNMM yang berada di wilayah Jawa Tengah tidak dapat direboisasi akibat terjangan awan panas. Luas total hutan yang terkena dampak Merapi mencapai 1.246 hektare.
”Hutan yang rusak akibat awan panas Merapi tersebar di daerah Klaten, Boyolali, dan Magelang. Hutan yang benar-benar tidak dapat direboisasi paling luas di daerah Klaten, sekitar 255 hektare,”tutur Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jateng, Sri Puryono di Semarang, Rabu (28/6). Sampai saat ini, kerugian yang timbul akibat kerusakan hutan itu mencapai sekitar Rp 5 miliar.
Sri menyatakan,dana rehabilitasi akan diajukan secepatnya setelah aktivitas Merapi reda. Kegiatan rehabilitasi kemungkinan baru dilaksanakan tahun 2007.
Untuk memulihkan kembali hutan Merapi, diperlukan waktu paling tidak 30 tahun. Hal ini didasarkan pada rata-rata umur pohon di kawasan itu. Reboisasi hanya dapat dilakukan pada daerah-daerah yang timbunan material Merapi tidak terlau besar. Kerusakan Hutan Merapi yang mencapai 20 persen dari luas keseluruhan, ternyata, berdampak besar terhadap fungsi hutan lindung. Dengan hilangnya sebagian daerah resapan air, daerah bawah lereng Merapi menjadi lebih rawan banjir dan kekeringan. Selain itu, satwa lokal, seperti kera dan rusa juga terancam.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Rabu, memasang satu sirine tanda bahaya sebagai sebuah sistem peringatan dini atas erupsi Merapi di Lereng Merapi sektor selatan-tenggara atau sektor yang saat ini menjadi lajur utama awan panas.
Kepala seksi Gunung Merapi BPPTK Subandrio mengatakan, sirine itu menjadi alat komando penting bagi warga jika terjadi luncuran awas panas yang beresiko sampai ke pemukiman penduduk. ”Sampai saat ini masih ada potensi terjadinya awan panas besar, terutama yang mengarah ke Kali Gendol atau atau sektor selatan-tenggara,”ujarnya.
Sirine ini dipasang di dusun Pangukrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY. Dibanding semua sirine yang sudah ada di Lereng Merapi, sirine ini memakai sistem baru, yakni mikrocontroler, menggantikan sistem dualtone multi-frequency (DTMF).
Hingga pukul 06.00 kemarin, gempa guguran tercatat 54 kali, gempa fase banyak 1 kali, dan gempa tektonik 1 kali. Awan panas terjadi 5 kali dengan jarak luncur maksimal 3 km ke Kali Gendol.
”Kondisi merapi masih awas. Jadi, masih berbahaya bagi wisatawan. Petugas juga dilarang masuk,”ujar Riyadi, relawan dari warga Sidorejo yang berada di pintu gerbang objek wisata Deles Indah.

Sumber dari Kompas, 29 Juni 2006 dengan perubahan seperlunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: