Tugas Bahasa Indonesia Softskill (Pemanfaatan Bahasa Indonesia pada Tataran Non Ilmiah)

TUGAS BAHASA INDONESIA (SOFTSKILL)

Nama : Yulinda Santiani
Kelas : 2EB13
NPM : 21208453

• Wacana non ilmiah dalam bentuk cerita rakyat

The Origins of The Kasada
Pada zamaan dahulu, di desa sekitar Gunung Bromo, sepasang sejoli melangsungkan upacara pernikahannya. Sepasang sejoli itu bernama Roro Anteng dan Joko Seger. Konon, Ayah Roro Anteng adalah dewa yang berdiam di sekitar Gunung Pananjakan. Ibunya wanita cantik peduduk desa yang tinggal seorang diri di sekitar Gunung Pananjakan itu. Roro Anteng cantik. Waktu lahir ia tenang dan tidak menangis sehingga Ibunya memberi nama Roro Anteng.
Menurut cerita pula, Joko Seger adalah anak sepasang suami-istri pertapa. Pada suatu hari, istri pertapa itu melahirkan seorang anak laki-laki. Wajahnya tampan dan becahaya. Benar-benar anak itu lahir dari titisan jiwa yang suci. Sejak lahir anak pertapa itu sudah dapat berteriak. Genggaman tangannya erat dan tendangan kakinya kuat. Tidak seperti anak yang lain. Oleh karena itu, kedua pertapa itu memberinya nama Joko Seger.
Waktu berlalu begitu cepat. Joko Seger dan Roro Anteng sudah dewasa. Beberapa peristiwa dialami Roro Anteng karena banyak pemuda yang ingin melamarnya. Namun, Roro Anteng telah menitipkan pilihannya kepada Joko Seger, sebagai calon suami. Setelah perkawinan itu, Joko Seger dan Roro Anteng hidup rukun sebagai sepasang suami-istri. Mereka tinggal di lereng Gunung Bromo. Mereka bekerja sama mengolah tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Joko Seger dan Roro Anteng banyak membantu penduduk desa. Setiap ada masalah, penduduk minta nasihat pasangan suami-istri itu. Dari soal pertanian sampai soal pertenakan selalu dapat mereka atasi. Mereka senang dengan kesibukan itu. Mereka merasaka rahmat dan nikmat dari Sang Pencipta. Mereka hidup bahagia.
Namun, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Usia mereka pun merambat cepat. Mereka sudah menjadi Nyai dan Kyai. Namun, mereka belum juga dikaruniai anak. Ketika mereka turun ke desa dan melihat keluarga lain dengan anaknya, mereka amat bersedih. Kemudian mereka sepakat untuk memohon kepada dewa. Nyai Anteng dan Kyai Seger pun bertapa di kaki Gunung Bromo. Setiap hari mereka bertapa dan berdoa tiada henti. Sampai suatu saat, Dewa Brahma mengabulkan permintaan mereka. Nyai Aneng mendengar suara bahwa kelak ia akan mempunyai banyak anak, asal anak bungsunya dikorbankan. Saat itu, Nyai Aneng menjawab, “Ya.”
Nyai Anteng kemudian melahirkan anaknya yang pertama. Kurang dari setahun ia melahirkan anak yang kedua. Demikian seterusnya, sampai pasangan Nyai Anteng dan Kyai Seger mempunyai 25 anak. Nyai Anteng dan Kyai Seger memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasing saying. Mereka tinggal bersama ke-25 anaknya di daerah yang dikemudian hari diberi nama Tengger. Berasal dari Anteng dan Seger. Masyarakat penduduk disana merupakan keturunan dari Nyai Anteng dan Kyai Seger.
Sejak kelahiran Kusuma, anak mereka yang bungsu, pasangan suami-istri itu gelisah. Mereka teringat janjinya kepada Dewa Brahma. Nyai Anteng mengusulkan untuk pindah ke lereng Gunung Pananjakan, untuk menjauhi Dewa Brahma. Kyai Seger setuju. Mereka berkemas-kemas dan membawa barang seperlunya. Namun, belum sempat mereka menyebrang menuju Gunung Pananjakan, perut Gunung Bromo berbuni gemuruh.
Dewa Brahma menagih janji. Asap mengepul-ngepul keluar dari puncak gunung. Suami-istri itu ketakutan. Nyai Anteng gemetaran karena tahu sebentar lagi ia harus berpisah dengan Kusuma. Kyai Seger memeluk Kusuma, ia tidak sampai hati melemparkan Kusuma ke kawah Gunung Bromo. Kusuma panic dalam pelukan Ayahnya. Saudara-saudara yang lain cemas. Mereka sudah diberitahu oleh Ayah Ibunya.
Melihat Ayah,Ibu dan Saudara-saudaranya cemas, Kusuma berubah menjadi tenang. Kusuma berkata,”Ayah, Ibu,janji harus ditepati. Beriakn aku baju putih dan sorban putih, aku akan menggenapi janji kalian.” Nyai Anteng menangis memeluk Kusuma, Kyai Seger gemetar melihat ketabahan dan jiwa ksatria anaknya. Dipegang dan dipandanginya Kusuma, anaknya yang paling tampan. Semua saudaranya kaget melihat kesungguhan Kusuma.
Setelah Kusuma selesai memakai sorban putih, tiba-tiba lidah api yang panjang keluar dari kawah Gunung Bromo. Lidah api itu menjulur-julur dan meliuk-liuk menyambar tubuh Kusuma. Dewa Brahma sudah menjemput Kusuma. Saudara- saudaranya menangis, terharu, dan kagum akan ketulusan hati Kusiuma. Sejak itu, tidak terdengar lagi suara gemuruh Gunung Bromo. Keadaan menjadi tenang dan tenteram seperti semula.
Nyai Anteng dan Kyai Seger selalu mengenang peristiwa itu. Mereka membawa sesaji untuk dilemparkan ke kawah Gunung Bromo. Setahun sekali saudara-saudarnya menghantarkan sesaji melanjutkan kebiasaan orang tuanya. Sampai saaat ini, penduduk Tengger yang merupakan keturunan Nyai Anteng dan Kyai Seger, melanjutkan kebiasaan itu. Mereka selalu mengadakan upacara korban di bawah Gunung Bromo, untuk menghormati arwah Kusuma. Mereka membawa sesaji dan hasil pertanian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: